Friday, January 2, 2009

MENGENANG GURU-GURU SD KU ( KUTULIS SELAGI MEMORI DIKEPALA INI BELUM TERKIKIS USIA )

Pertama sekolah tahun 1964 disebuah tempat yang namanya Talang Akar sebuah tempat penghasil minyak yang sangat terkenal dijaman penjajahan Belanda dulu. Talang Akar adalah sebuah tempat terpencil dimana disana terdapat dua sekolah SR (Sekolah Rakyat) dan disalah satu sekolah itulah pertama aku bersekolah yaitu di SR I yang kepala sekolahnya bernama pak Saleh. Tidak banyak yang aku ceritakan tentang sekolah ini yang kuingat SR I dan SR II menempati satu gedung permanen yang berbentuk huruf L. Didepan sekolah tumbuh pohon beringin disebelah baratnya ada pohon kembang kantil yang besar, diseberang jalan raya ada mesjid, ditimur mesjid ada gedung bioskop.yang kuingat lagi ditimur sekolah ada penjual krupuk kemplang dan bila kita ketimur terus ada SMP juga sebuah toko seperti supermarketlah kalau sekarang .Dekat toko ini kemudian ada Rumah Sakit yang lumayan besar dan modern.
Kelas III bapakku pindah ke Pendopo yang juga penghasil minyak tapi kota ini lebih besar dan lebih ramai dari Talang Akar, dengan pindahnya bapakku otomatis aku juga ikut pindah dan diterima di SR III Pendopo yang waktu itu gurunya bernama pak Murni. orangnya necis, rumahnya juga selalu bersih. Pak Murni adalah seorang guru yang berdedikasi tinggi, senang humor, disiplin akan tugas dan tidak heran setiap buku PR pasti dibawa pulang untuk dikoreksi dirumah .Yang mengesankan dari guruku yang satu ini adalah bila beliau mengajar selalu menyiapkan alat peraga selengkap-lengkapnya.Disamping sebagai guru pak Murni juga walau bukan petani sering berkebun dan hasil kebunnya bila panen sering dibawa kesekolah dan dibagikan kepada siswa-siswinya dan saking cintanya pada siswa-siswinya bila ada penjual buah lewat maka pak Murni ini tidak segan-segan membeli sebanyak jumlah siswanya lalu dimakan bersama-sama . Hal yang dilakukan pak.Murni tersebut adalah kecil tapi mengesankan sekali, masih teringat dan terbayang wajah dan senyuman belau.
Akhir tahun aku naik kelas IV yang mengajar orang Batak namanya pak Amir, orangnya serem, pendek, logatnya logat Batak sepatu yang dipakai sepatu putih yang disemir kapur. Bagi teman-teman dan juga aku merupakan guru yang menakutkan tapi bagi aku pak Amir punya kesan tersendiri yang tak dapat aku lupakan . Ceritanya begini,suatu hari pak Amir memberi satu soal hitungan yang disebut hitung sepren dengan garis miring, soal itu sulit sekali. Setelah dirasa cukup waktunya buku pekerjaan dikumpulkan lalu dikoreksi dikantor dan menjelang pulang bukupekerjaan tadi dibagi lagi semua teman mendapatkan bukunya kembali hanya aku yang tidak sampai-sampai aku hampir menangis karena takut (maklum waktu itu masih penakut). Setelah kelas tenang pak Amir bertanya siapa yang tidak mendapatkan bukunya dan dengan rasa takut aku mengacungkan telunjuk dan dijawab dengan senyum oleh pak Amir sambil menyuruh aku maju kedepan kelas. Didepan kelas pak Amir mengelus-elus punggunggku sambil menerangkan bahwa aku adalah satu-satunya siswa yang menjawab soal berhitung itu dengan betul , lalu pak Amir memberi hadiah sebuah buku tulis tipis berwarna ungu buatan pabrik leces dan aku merasa terharu dan bangga sekali waktu itu. Peristiwa itu adalah peristiwa sederhana tapi itulah pertama kali aku mendapat hadiah, hadiah sebuah buku tulis tapi kesannya tak pernah kulupakan sampai akhir khayatku.
Dikelas V guruku yang sebenarnya kalau tidak salah pak Sujarwo dan kadang diganti oleh pak Kinarto padahal pak Kinarto guru SR IV yang sekolahnya berdampingan. Beliau ini dulu kalau tidak salah masih bujangan dan sama nggantengnya serta teman akrab.Pak Sujarwo badannya tinggi besar maklum di tim sepak bola ia seorang kiper kakaknya bernama Dollah pemain andalan tim Pendopo sedang pak Kinarto orangnya sedang-sedang saja tapi lincah. Dikelas V siswinya banyak yang cantik dan manis-manis karena anakkaryawan staff perusahaan kami bilang mereka anak gedongan , seperti Magdalena, Lela Kencana, Kun Priantini, Sukma Iriani dan lain-lain.Kesan saya pada pak Kinarto adalah beliau kalau mengajar senangnya cerita yang lucu-lucu.
Dikelas VI guruku bernama pak A.Dentjik asli orang Sumatera Selatan orangnya walau sudah agak berumur tapi temperamental, mudah marah tapi disiplin sekali dalam mengajar sehingga tidak heran jika akhir ujian SD III sukses.Kami sebagai murid pak A.Dentjik terkesan sekali atas usahanya memperjuangkan nasib kami agar kami bisa lulus semua. alhamdulillah berkat kerjakerasnya kami berhasil dalam ujian negara yang waktu itu suasananya tidak seperti ujian nasional sekarang yang terkesan santai.
Posted by pakmardi-ks ujunggede in 13:24:40
Comments

Leave a Reply